Ino, salah seorang pembuat tempe juga mengakui hal yang sama. Produksi Ino saat ini sudah tak seperti lagi biasanya. Kini ia memproduksi tempe sesuai pesanan saja. Itupun kalau pemesan sepakat dengan harga yang sudah dinaikkan.
"Sekarang kalau saya beli kedelai dua tondengan harga sekian, hasil produksi dan penjualannya itu sudah tak bisa lagi digunakan untuk memberi kembali dua ton itu," beber Ino.
Selain menaikkan harga, potongan standar per balok tempe juga dikecilkan. Hal itu dilakukan untuk mengimbangi ongkos produksi yang mahal.
Toko Roti dan Kue DONADIA
Salah seorang penjual tempe keliling, Suprapto mengaku terpukul dengan keadaan ini. Pria yang sudah 18 tahun menjadi penjual tempe keliling itu mengaku baru sekarang merasa terpukul seperti ini.
Akhir-akhir ini, Suprapto sudah mengurangi jualannya. Namun itu pun tak bisa laku semua. Padahal sebelumnya, berapa pun yang ia bawa pasti ludes terjual.
Satu bayam (cetakan, red) tempe, Suprapto membeli dari pembuat dengan harga Rp60 ribu. Padahal biasanya cuma Rp50 ribu. "Mau apa lagi, kami terpaksa manaikkan harga. Tapi yang susah kami juga sebab masyarakat tak banyak membeli kalau harganya dinaikkan," keluhnya.
Halaman Selanjutnya:







